Ayam Bakar

Aku cukup kesal. Di antara ke empat temanku, Doni-lah yang paling sigap untuk menyakinkan mereka menjadikanku kelinci percobaan. Doni, bocah  yang paling tinggi daripada kami, dan tentang usia juga lebih tua. Kalau diperhatikan ia serupa ikan buntal. Tidak ada yang berani menentang kepemimpinannya.


Aku masih ingat, Fahmi mendatangiku ketika tengah menikmati bermain ayunan di Taman. Aku perhatikan pipi kirinya sedikit memerah, seperti bekas tamparan yang  cukup keras.

Agak lama ia terdiam. Tergambar di wajahnya usaha untuk menahan tangis.  Aku meragu bertanya.

“Doni,” tukasnya, membuka obrolan.

Aku menyeringai padanya. Aku berdiri dan meyakinkannya, “Sudahlah, sabar, Mi.” Aku menepuk pundaknya. Tanpa berkata banyak seakan kami saling mengerti.


Kami melangkah pelan dan hati-hati, aku menjadi kepala, Doni di tengah serta Fahmi sebagai buntutnya. Agus dan Fikri tidak ikut, karena menurut Doni adalah rencana  yang tidak membutuhkan banyak orang.

Doni menepuk  punggungku, aku menoleh padanya. “Kami menunggu dan menjagamu dari sini, hati-hati dan jangan ceroboh…” Kemudian ia menarik lengan Fahmi untuk bersembunyi di semak-semak. “Jangan berisik,” katanya lagi.

Penglihatanku kini mulai bersahabat dengan pekatnya malam yang diterpa cahaya rembulan. Aku bergeming sebentar, memalingkan pandanganku ke rumah Pak Marta. Sekiranya aman, mungkin penghuni penghuninya sudah tertidur.

Pintu kandang ayam berdecit ketika aku menariknya. Tanganku merogoh ke dalam, dan meraba. Jariku mencengkram dua buah kaki yang kasar dengan kuat, kaki itu meronta. Aku menariknya secara paksa dan mengakibatkan hewan itu menjerit. Seakan tidak rela.
Ayam itu terus berkokok, dan aku panik.  Tubuhku sedikit mundur ke belakang. Aku menginjak batu  yang keras. Tanpa menunggu lama, batu itu kuambil dan kuhempaskan tanganku ke arah kepala ayam itu. Seketika dia terdiam.

Aku mendengar jentikkan jari. Sebuah pesan peringatan dari Doni, lalu aku berjinjit dan kami bergegas untuk mendapatkan tempat aman.

“Bagus-bagus,” kata Doni.

Doni menyembelih ayam itu.

“Memangnya seperti itu caranya?” Tanya Fikri tak yakin.

“Seperti menggergaji batang pohon,” sambung Fahmi.

“Kalian lihat saja,” kata Doni geram.

Agus ke luar lewat pintu belakang rumahnya, menenteng ember berisikan air panas, ia tergopoh. Aku mendekatinya. “Sini aku bantu,” kataku.

Agus mengangguk.

“Kelar!” Seru Doni lalu mendengus.

Doni menggeletakan ayam itu beserta pisau yang digenggamnya di atas sebidang tanah. Aku disuruh menggantikan pekerjaannya, membelah perut, mengeluarkan jeroan sebelum akhirnya Doni melemparkan ayam itu ke dalam ember.  Setelah dirasa yakin, kami mencabuti bulu ayam.

Bara api itu melahap tubuh ayam yang terjepit besi pemanggang di atas tungku. Nampak berbuih dari kulit ayam itu, seperti manik keringat menetes. Kami menunggunya hingga matang. Setelah dirasa cukup, kami menyantap daging bakar itu dan Doni mendapat bagian yang paling banyak.

Aku hampir tertawa tatkala mengelih mulut Fahmi yang mencabik-cabik daging bakar itu dengan rakus. Seperti kanibal saja, begitu pikirku.

Makanan ini seperti hidangan mulia bagi kami. Di balik itu semua tentu ada rasa antara kepuasan dan ketakutan. Lagi-lagi, akulah yang bagaikan prajurit. Berjalan di barisan depan. Aku bersyukur malam ini rencana kami berjalan dengan lancar, tiada saksi yang menyaksikan keburukan kami. Aku tidak begitu peduli dengan esok… Aku juga tak mau ambil pusing tentang Pak Marta. Semoga saja dia tidak menyadari, ayamnya malam ini berkurang satu.

“Kenyang aku, Jon,” kata Doni, membuyarkan lamunanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.