Obrolan di Senja Hari

Seperti ada yang menyelimuti pikiranku, entah berapa lama hal ini telah berlalu, mungkin seminggu atau bahkan lebih lama. Aku duduk di lantai, tangan kiriku memeluk lutut, dan yang kanan menggengam smartphone.

“Apa yang ingin kau tulis?” Tanyanya.

“Entahlah, aku stagnan.”

Aku mengerucutkan pikiranku, mengerlingkan pandangan dan berharap  merenggut imajinasi yang berseliweran di udara. Aku hanya sadar diri, rupanya struktur kepalaku itu tidak normal. Berbeda dari kebanyakan orang. Aku melucu, membayangkan tatkala aku terlahir, Ibu, sempat meremas cangkang belakang bagian kepalaku dengan kekuatan ototnya yang begitu serius. Seandainya aku dapat berbicara waktu itu, mungkin aku akan berucap, “Hentikan, Bu! Ini sakit.”

Aku pernah membaca artikel, bertajuk otak kanan vs otak kiri. Di dalam konten tersebut, aku menjumpai diriku tak mampu berimajinasi, sebagaimana para pelukis kawakan, atau sekadar  kacangan di bangku-bangku sekolah dasar. Ini sia-sia, aku membayangkan wajah orang dan sesuatu yang berwarna, hasilnya hitam dan putih.

“Tuliskan saja apa yang kau pikirkan,” Katanya.

“Bagaimana?”

“Apa?”

“Bagaimana cara berpikir?”

“Aneh sekali, tentunya kau lebih tahu,” ia berdiri, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ia berjalan, menuju lebih dekat kepadaku dan merunduk. Matanya menyorot layar smartphoneku yang masih menyala, dan tangannya mengayun sebelum akhirnya  menepuk-nepuk kepalaku, seperti kucing kesayangannya, “Tuliskan tentang diriku,” katanya.

Sebenarnya aku sudah tahu bahwa dia itu tidak kompeten. Namun, untuk beberapa alasan aku merasa dirinya memiliki integritas yang lebih baik. Satu, dua, atau beberapa paragraf dapat ia tulis dengan piawai. Aku merasa ada kejujuran terhadapnya. Bahkan kelewat berlebihan untuk sekedar cerita yang sederhana. Begitu bertele-tele. Baginya hal yang pertama dilakukan itu praktik bukan teori melulu yang didiskusikan. Bertolak belakang denganku.

“Begini saja, kita ambil jalan tengah. Bagaimana jika kau yang menulisnya… ” Aku menutup mulut. Tidak menyangka apa yang kuucapkan. “Kau menulisnya dan begitu selesai, apa yang kau tulis itu menjadi milikku.”

Dia memperhatikanku dengan saksama, beserta ekspresi yang datar. Seolah menganggapku komoditas yang tak berguna. Aku merasa direndahkan olehnya, dihinakan. Ia berdiri, dan beringsut menjauh dariku. Mendekati jendela yang terbuka, dan terduduk disana. Ia menoleh ke luar jendela, memandangi daun-daun pohon ceri yang diterpa angin senja dan aroma tanah basah tercium.

“Tuliskan saja tentangku,” katanya kembali.

Aku menggeletakkan smartphoneku di lantai, berjalan di koridor dan menuju ke dapur. Aku membuka rak lemari dan mengambil gelas. Kunikmati pemandangan itu ketika kutuangkan teko yang berisi air  ke dalam gelas. Bagai air terjun, aku membatin.

“Sudah kau tuliskan?” Tanyanya samar-samar.

Gemerisik hujan saling bertautan menerpa bagian luar rumahku. Sepertinya cukup lebat.

“Semoga tidak terjadi badai,” aku menyahut, semoga ia tidak mendengar ucapanku.

“Apa yang kau bicarakan?” Suaranya ada di belakang pundakku. Aku menoleh ke belakang. Aku tidak menyadari keberadaannya, sesaat sebelum dia bertanya. Aku pikir dia masih berada di dekat jendela ruang tamu.

“Sejak kapan?” Tanyaku.

Dia berdeham.

“Jangan mengalihkan obrolan,” katanya.

“Tentu tidak, aku hanya merasa… ” Aku menggamit lengannya, mengajaknya kembali ke ruang tamu. Dia menurut. “Apakah kau sudah menulis?”

Usaha pengalihanku sepertinya tidak berhasil. Aku merenggut smartphoneku yang masih tergeletak di lantai, dan menggulir layar ke atas dan ke bawah. Masih sama, tidak ada perubahan. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan seolah merefleksikan rasa malu.

“Tuliskan saja tentangku,” katanya.

Pernyataannya membuatku berpikir lebih dalam.

Beginilah, aku mengakui kesulitanku untuk menulis. Ketololan pertamaku adalah tidak mudah meraup kata-kata menjadi sebuah cerita, aku senantiasa melakukan sesuatu yang tidak membebankan kinerja imajinasiku. Tidak ada tema, alur, ide atau pun topik lainnya. Hingga akhirnya, aku menyalahkan diriku sendiri, tetapi aku bersyukur berkat diriku yang lain, yang memberikan kualitas standar bagiku, yang berulangkali mengatakan; ‘tuliskan saja tentangku’ ,dan juga aku berterima kasih padanya. Tanpanya aku tidak pernah menulis cerita ini, tanpanya aku masih ragu-ragu. Berkat dirinya aku dapat belajar dari kesederhanaan dan yang aku butuhkan sekarang adalah hanya sekadar menulis saja.

“Baiklah… Akan kulakukan,” kataku meringis.


2 thoughts on “Obrolan di Senja Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.