RIMA LABIL

Seputar tentang terbenamnya kata kata
Menutup pintu mengasingkan diri dari wacana
Begitu surut ekspektasiku mengobral kebodohan
Di antara dentuman bahasa yang semakin runyam
Dungu tindakan dan miskin harga diri
Nurani dan simpatisme juga menghianati
Seakan pergi menuntun tuk masuk ke liang lahat Rima ababil!

Surat untuk saudaraku

Saat kumelakukan kesalahan kamu harus membenci sifatku tpi jangan membenci diriku.
Bencilah pada nafsu dan egoisan diriku dan berilah aku kesempatan tuk memperbaiki diri.
Apalagi kebaikan itu berkesinambungan.
Aku harap kamu senang melihatnya..
Senang melihat kebaikan orang lain…
Begitupula sebaliknya aku tak membenci dirimu.. sama sekali tidak .. jangan salah paham, aku tak membenci jasadmu…
Sma sekali tidak ada rasa itu.
Ketika kamu melalukan kebaikan maka senanglah hati ini..
Berharap engkau dapat melakukan nya secara kontinu.
Aku yakin kamu sudah paham.
“Terus menerus” itu adalah hal yang sulit. Karna hasrat dan semangat tidak selalu ada berangsur angsur mereka dapat luntur…
Tapi ingatlah pada perbedaan kewajiban dan keinginan..
Kewajiban itu tidak perlu pakai keinginan..
Karna setiap keinginan itu bercampur dengan nafsu…

Cerpen di langit mendung

Yang terlihat pada pandanganmu ialah perhiasan
Kecuali yang mengikut pada kelalaian
Tidak dibenarkan engkau meremehkan sampah
Padahal sebelumnya ia berguna
Terapkanlah mata dan hatimu agar selaras
Apa yang terkandung di dalamnya mengandung hikmah yang besar

Rasa syukur di mulai dari segala sesuatu.
Disaat aku melihat orang lain menyakiti dirinya terang terangan
Apa yang dibenarkan oleh nafsu ini?
Tentu dia akan berkata, “Astagfirullah manusia yang lalai!”
Padahal jika dibalik akulah sebenarnya yang terbuai
Oleh kecantikan ibadahku.
Seakan akan apa yang kuperbuat selama ini adalah nyata…
Nyata dari pekerjaan diriku sendiri. Nyata aku akan mendapat ganjaran yang setimpal dan aku keliru. Benar benar keliru.

Kenapa kesempatan itu jarang sekali datang?
Kesempatan tuk mendoakan, mendoakan selain diriku agar berbuat taat ketika asik berpeluk erat dengan maksiat.

Bukan menyindir atau menjelekkan
Seharusnya bukan itu yang kupikirkan.
Aku tidak mampu.
Keburukan selalu menyertai diriku.
Dimana kuberada fitnah seperti mahluk tiga dimensi
Dimana ia memeluk tubuhmu ketika engkau melihat perbuatan orang lain meski hanya sekilas

Malam yang basah karna diguyur oleh hujan
Gemericik suara air berjatuhan
seorang tengah bersandar dibalik tembok yang kokoh
Ia menggenggam smartphone sambil mengumpat, matanya tidak lepas dari apa yang ia lihat, kemudian ia menulis sebuah kalimat,
“Ah bego lu njirr, susah ngomong sama cebong mah. Kaga bakalan ngerti,”
Begitu mudahnya memberi nilai pada orang yang jelas jelas tidak kita ketahui secara langsung.

Aku menemui seorang yang cukup sering melintas di jalan yang biasa aku lalui
kupikir ia orang yang tidak waras.
Aku segan tuk menghampirinya
Dan waktu berlalu, ku beranikan diri tuk menyapanya
Ternyata komunikasi nya baik dan nyambung,
“aku keliru,” begitu batinku.
Pria itu menjelaskan ia memang biasa berpakaian sederhana, ia memakai apa yang ada walaupun banyak sobekan disana sini.
Wajar ia tidak memperdulikan keadaanya pakaiannya, ya karna ia bekerja sebagai pemulung. “Toh, nanti bakal kotor lagi,” begitu lanjutnya.
Lalu Ia menunjukkan isi dalam ransel , “kecuali ini, saya usahakan tuk selalu terjaga kebersihannya.”
Yang ternyata itu perangkat alat sholat.

Bagai dadu berputar
Seperti permainan lotre dimana angka yang keluar hanya tuk satu pemenang
Tetapi kemenangan yang ia hasilkan dari beberapa puluh kali percobaan.
Jika ia mencoba kembali, belum tentu hasil nya kan sama…
Rasa ingin menilai itu lebih besar dari percikan api.
Ia tak bisa padam hanya dengan air.
Yang mana air itu bagaikan sebuah ucapan kebaikan…

Hujan pun mulai reda.
Aku tak tahu cerita ini✍️ mau dibawa kemana.
Dan akupun berniat minum sejenak…🤞✌️

Berbeda

Cerita ini aku dedikasikan untuk kamu yang merasa dirimulah paling benar.. terima kasih , kalau kau tak ada mana mungkin kumengerti..
“Sepertinya aku mulai hilang kendali!”
Dimanakah aku ketika kalian membutuhkan?
Tangan yang lusuh mencemaskan hari esok
Sembari mengusap wajah hasil keringat pekerjaan
Berharap ada ikan bakar ketika dapur ditengok
Terkesan malas seakan itu tabiat
Terlalu curiga dengan pendapat sepihak
Dirinyalah yang paling benar dan aku tersalah
Binasa dalam keraguan akan tuduhan air beriak
Ini bukan cerita yang kubalut dengan cinta
Meski ayah pergi dan ibu meninggalkan kita
Carilah air mengalir dan tanyakanlah
“Apakah benar kau tak mengenali lelah dan derita?”
Dapatil kesimpulan dengan melihat kau punya satu jawaban
Paradigma negatif
Belum apa apa sudah menyindir ini-itu yang membuat hati merasa sakit
Dimana letak keikhlasan, rasa puas, kekurangan, tidak bersyukur
Kau melantur disaat putus asa, kata kata terlontar terdengar seperti mempunyai hak dan kuasa
Perbedaan antara pendapat sudah tak jelas
Egoisme mementingkan tuduhan tak berkelas
Saling beriringan antara kepentingan dan rasa mau memiliki lebih
Terlena ketika bergerak berlawanan dan kau memaki kalau itu bukan hasil yang ingin kau raih
Aku itu aku
Kekurangan serta kelebihan mirip dadu berputar
Dimana kau tak tahu angka yang kan keluar
Disebuah mall atau pasar, orang orang berlalu lalang
Menunjukkan karakteristik tanpa banyak komentar
Seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang
Namun bila sudah kenal buat apa berlaku kasar….
Ini perbedaan. Dimana aku dan kau ataupun kita dan mereka, hatimu itu tidak hanya satu jika disatukan
Dan yang aku inginkan agar kau tak menuruti hawa nafsu yang membuat kau tidak bisa menentukan…
Sekiann……