TIKUS

Dia merambat di atap rumah. Menyusuri setiap jengkal asbes yang bergelombang. Dilihatnya ada ceruk yang terapit sebatang bambu dan dinding, sebelum ia tertarik dan menuju lebih dekat ke ceruk itu, Ia tersentak dan jatuh kebawah. Didapatinya beberapa kepala yang terbenam di  bantal. Badan-badan yang terlentang, dan sesekali mendengkur dari kepala yang ditumbuhi rambut, “Bentuknya berbeda, tidak sama dengan bangsaku,” cetusnya.

Dia merayap di sela-sela dinding. Perlahan tapi pasti, berharap agar tidak membangunkan mereka. Mengendus aroma  khas yang beberapa kali dia temukan di dalam lemari yang terbuka. Santapan malam bagi dirinya. Dia melenggang masuk ke dalam lemari itu, mengunyah  sekerat tempe yang didapatinya menempel di sebuah piring porselen. “Ini jatahku,” katanya dengan bangga.

Dia bernafsu mengunyah makanan itu, kakinya menginjak piring itu dan piring itu berkelentang, sebelum akhirnya pikirannya menerawang kepada peristiwa yang lalu, yang belum lama terjadi. Mengharuskan dirinya berkelit dan berlari sekuat tenaga dari bangsa pemburu, begitulah dia memanggilnya.

“Semoga saja bangsa pemburu tidak datang,” ucapnya.

Dia beringsut ke luar, kepalanya menjorok dari dalam lemari. Memastikan bangsa pemburu takkan menyambutnya dengan gairah seperti mau membantai. Setelah dirasa aman, dia melanjutkan tuk menikmati santapannya.

“Apa kau ada di dalam sana?” Tanya suara dari luar lemari. “Jangan harap kau dapat lolos kali ini.”

Wajahnya kaku dan kakinya seperti tidak bisa digerakkan. Gigitan tempe yang masih tersisa dimulutnya dimuntahkan seakan makanan itu tidak mengizinkan masuk ke dalam kerongkongannya.

“Aku yakin kau ada disitu,” kata suara itu. “Bersikaplah yang tangguh, jangan seperti pengecut.”

Dia terdiam.

“Keluarlah!”

Dia mendengar suara dentuman, dan merasakan sensasi mengambang dan tubuhnya limbung. Merasa terancam dengan bangsa pemburu itu yang mencoba memaksa dirinya tuk lebih dekat kepadanya. Lemari itu bergoyang goyang, karna  terpaan dari sesuatu yang lunak. Dia mencoba beranikan diri untuk membuka obrolan.
“Ayolah, kawan. Aku sudah lelah. Aku tidak mengganggumu, aku hanya ingin menghilangkan rasa lapar. Kita memang berbeda, bisakah kau lebih mengerti?”

Tak ada jawaban.


“Ayah, aku rindu pada Rudi,” kata seekor yang lebih kecil daripadanya. “Kenapa dunia ini tak adil——-”

Sebagai seorang ayah, dia paham betul apa yang dirasakan anaknya. Dunia memang keras, dia mengerti. Sebanyak apapun dia memberikan nasihat kepada anaknya, dia paling tahu bahwa dirinya tidaklah mampu menjadi panutan bagi anak-anaknya. Dia terdiam sejenak dan mengingat anak pertamanya, Rudi, telah tewas mengenaskan. Dia mendapati Rudi tengah terjepit dari gigi bangsa pemburu, ekor Rudi melayang-layang di udara akibat koyakan dari bangsa pemburu, sebelum akhirnya tubuh Rudi lenyap ke dalam mulutnya..

“Ayah, aku lapar,” kata anaknya, membuyarkan khayalannya.

“Sabar, Sayang,” katanya dengan suara yang bersahaja. “Aku akan keluar sebentar dan kembali membawakan makanan yang lezat.”

“Apa aku boleh ikut?” Tanya anak itu.

“Tetaplah disini, Nak. Ayah pasti kembali.” Dia pergi meninggalkan anak itu di sebuah tempat yang dirasanya aman, adalah rumah. Begitulah dia memanggilnya.


Semakin kuat lemari itu bergoyang dan merasa tidak aman jika tetap berada disitu. Dia menarik nafas mencoba mengumpulkan segenap keberanian. Dia menyusun rute pelarian, setahap demi setahap. Dia membayangkan dapur, kemudian melompati wastapel, turun ke bawah lantai, dan menghilang di balik keranjang tempat sampah untuk menyembunyikan dirinya dari bangsa pemburu. Tatkala keranjang itu terbalik dari posisi semula dia berlari sekencang-kencangnya. Dia mendengar derap langkah di belakangnya. Berderap dan mengikuti dirinya. Kecemasan semakin kuat dan pacuan degup jantung terus meningkat di dalam tubuhnya.

“Kau takkan lolos,” kata suara itu.

Dia takut menoleh ke belakang. Di pikirannya hanya ada keselamatan dan anak satu-satunya yang masih kecil, takkan mampu hidup bila tanpa dirinya.

Tubuhnya terpental ke depan. Dia menerima sebuah cakaran yang cukup keras. Dia terhuyung-huyung. Kakinya tergelincir. Beruntung dia mampu menjaga keseimbangannya dan hampir-hampir saja kematian merenggut dirinya.

Dia tetap berlari mencari keselamatan. Berlari dan terus berlari. Matanya menemukan lapisan yang cukup kasar tuk membantu dirinya agar dapat memanjat ke tempat yang lebih tinggi. Dia melompat dan merambat ke atas. Setelah dirasa aman dia menoleh ke bawah dan menyaksikan bangsa pemburu.  Pemburu itu berputar putar di bawah, bulu-bulunya mengembang, ekornya kaku, dan menjulang ke atas seperti tersambar petir dan kepala pemburu itu tetap mengintai dirinya dengan pandangan yang tajam.

“Maafkan aku, Nak, tidak ada makanan untukmu malam ini,” ucap batinnya sebelum akhirnya dia melenggang pergi tuk kembali ke rumahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.